Rakyat Palestina Salurkan Donasi untuk Iftar dan Sahur di Pesantren Hidayatullah Kebumen
Berita Kegiatan Terkini Terpopuler Trending- Est 2 min
- 0 Views
- 1 month ago
RAKERDAGAB DPD Hidayatullah Rayon Barat Teguhkan Sinergi dan Integrasi Program Umat
Berita Kegiatan Terkini Terpopuler Trending- Est 2 min
- 0 Views
- 2 months ago
MUSCAGAB Hidayatullah se-Kabupaten Kebumen Berlangsung Khidmat dan Penuh Ghirah Dakwah
Berita Kegiatan Terkini Terpopuler Trending- Est 1 min
- 0 Views
- 3 months ago
Rihlah Penuh Kehangatan, QLC Ibu-ibu Pererat Ukhuwah di Rahayu River Tubing
Kegiatan Terkini Terpopuler Trending- Est 2 min
- 0 Views
- 3 months ago
Rapat Pleno DPD Hidayatullah Kebumen Matangkan Agenda Pelantikan DPC, Rakerda, dan Tarhib Ramadhan
Berita Kegiatan Terkini Terpopuler Trending- Est 2 min
- 0 Views
- 3 months ago
Pemuda di Persimpangan Zaman: Meneguhkan Tauhid, Menghidupkan Peran, Menjawab Krisis
Artikel Berita Kegiatan Terkini Terpopuler Trending- Est 4 min
- 0 Views
- 3 months ago
Musyawarah Gabungan DPD Hidayatullah Kebumen dan Purworejo Teguhkan Semangat Dakwah dan Kepemimpinan
Berita Kegiatan Terkini Terpopuler- Est 2 min
- 0 Views
- 4 months ago
Top 10 News
Halaqah MZ & BMH Kebumen Kembali Digelar, Perkuat Ruhiyah Amil dan Asatidzah
3 Dekade Menjemput Berkah, Menenun Sejarah: Jejak Langkah Sosok Perintis di Ujung Selatan Mataram
Rakyat Palestina Salurkan Donasi untuk Iftar dan Sahur di Pesantren Hidayatullah Kebumen
RAKERDAGAB DPD Hidayatullah Rayon Barat Teguhkan Sinergi dan Integrasi Program Umat
MUSCAGAB Hidayatullah se-Kabupaten Kebumen Berlangsung Khidmat dan Penuh Ghirah Dakwah
Rihlah Penuh Kehangatan, QLC Ibu-ibu Pererat Ukhuwah di Rahayu River Tubing
Rapat Pleno DPD Hidayatullah Kebumen Matangkan Agenda Pelantikan DPC, Rakerda, dan Tarhib Ramadhan
Pemuda di Persimpangan Zaman: Meneguhkan Tauhid, Menghidupkan Peran, Menjawab Krisis
Musyawarah Gabungan DPD Hidayatullah Kebumen dan Purworejo Teguhkan Semangat Dakwah dan Kepemimpinan
Kegiatan
Artikel
Risiko Menjadi Generalis: Antara Fleksibilitas dan Kehilangan Arah
Artikel Terkini Trending- Est 4 min
- 0 Views
- 1 week ago
Silaturahim Syawal, Ada Apa di Baliknya ?”
Artikel Terkini Terpopuler Trending- Est 3 min
- 0 Views
- 2 weeks ago
Paradoks Solidaritas: Mengurai Benang Kusut Geopolitik di Balik Tragedi Palestina
Artikel Berita Terkini Trending- Est 4 min
- 0 Views
- 2 weeks ago
Rakyat Palestina Salurkan Donasi untuk Iftar dan Sahur di Pesantren Hidayatullah Kebumen
Berita Kegiatan Terkini Terpopuler Trending- Est 2 min
- 0 Views
- 1 month ago
Ramadhan Momentum Emas Memutus Rantai Kebiasaan Buruk
Artikel Terkini Terpopuler Trending- Est 5 min
- 0 Views
- 2 months ago
Membasuh Debu di Harta, Menyucikan Noda di Jiwa
Artikel Terkini Terpopuler Trending- Est 4 min
- 0 Views
- 2 months ago
Kampus Hidayatullah Kebumen Hadirkan Ulama Tafsir dan Imam Besar dari Mesir Selama 20 Hari di Bulan Ramadhan
Berita Terkini Terpopuler Trending- Est 2 min
- 0 Views
- 2 months ago
“Ramadhan Madrasah Jiwa dan Penaklukan Hawa Nafsu”
Artikel Terkini Terpopuler Trending- Est 4 min
- 0 Views
- 2 months ago
Puasa Madrasah Mengubah Pola Pikir
Artikel Terkini Terpopuler Trending- Est 4 min
- 0 Views
- 2 months ago
Terkini
Posts
Halaqah MZ & BMH Kebumen Kembali Digelar, Perkuat Ruhiyah Amil dan Asatidzah
Kebumen – Dalam upaya menjaga semangat juang dan memperkuat nilai-nilai ruhiyah dalam aktivitas dakwah sosial, halaqah rutin yang diselenggarakan oleh MZ (Mitra Zakat) dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Kebumen kembali digelar pada Jumat, 10 April 2026.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi seluruh jajaran amil dan asatidzah untuk kembali menyegarkan niat, memperkuat spiritualitas, serta meneguhkan komitmen dalam menjalankan amanah dakwah melalui bidang sosial. Halaqah ini dirancang sebagai ruang pembinaan yang tidak hanya menambah wawasan keislaman, tetapi juga menjadi sarana penguatan hati dan kebersamaan dalam perjuangan.
Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, para peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang berfokus pada penguatan ruhiyah, tazkiyatun nafs, serta pengingat akan pentingnya keikhlasan dalam berkhidmat untuk umat. Hal ini menjadi sangat penting, mengingat aktivitas sosial sering kali menuntut tenaga dan pikiran yang besar, sehingga membutuhkan fondasi spiritual yang kokoh.
Kegiatan halaqah ini juga menjadi simbol sinergi dakwah antara MZ dan BMH Kebumen dalam satu barisan perjuangan di bawah naungan Hidayatullah. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat peran dakwah sosial yang tidak hanya berorientasi pada distribusi bantuan, tetapi juga pada pembinaan umat secara menyeluruh.
Dengan kembali dimulainya halaqah rutin ini, diharapkan seluruh amil dan asatidzah semakin memiliki semangat yang terjaga, hati yang kuat, serta visi yang selaras dalam mengemban misi dakwah. Tidak hanya sebagai pekerja sosial, tetapi sebagai pejuang dakwah yang menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.
Halaqah ini direncanakan akan terus berlangsung secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan ruhiyah dan soliditas perjuangan dalam dakwah sosial di Kebumen.
Slow Living di Jawa Tengah: Antara Romantisasi dan Realitas
“Jawa Tengah itu enak, hidupnya slow living.”
Kalimat ini sering kita dengar. Gambaran hidup yang tenang, santai, biaya murah, jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Tapi, benarkah realitasnya seperti itu?
Tahun 2025, rata-rata UMR di banyak kota Jawa Tengah masih berkutat di angka Rp2 jutaan. Bandingkan dengan Jakarta, Bekasi, atau Karawang yang sudah tembus Rp5 juta. Selisihnya bisa dua kali lipat.
Biasanya langsung ada yang membela,
“Ya kan biaya hidup di sini murah.”
Masalahnya, tidak semurah yang dibayangkan.
Said (28), seorang desainer grafis di Magelang, hanya tertawa getir saat mendengar itu. Menurutnya, harga-harga sekarang sudah “nasional”. Bensin, beras, minyak goreng, telur—semuanya hampir sama dengan kota besar.
“Bahkan kopi di kafe sekarang Rp25.000–Rp30.000. Dengan gaji Rp2 jutaan, nongkrong dua kali seminggu saja sudah terasa mewah,” katanya.
Barang-barang lain juga sama saja. Mau beli sepatu branded atau gawai baru, harganya tidak ikut “turun gunung” hanya karena kita tinggal dekat Gunung Sumbing.
“Jadi slow living itu lebih cocok buat orang Jakarta yang pindah ke sini bawa tabungan. Kalau kami? Ya tetap kerja keras, kadang harus ambil kerjaan tambahan,” tambahnya.
Di Jawa Tengah, ada satu hal yang sering tidak dihitung dalam biaya hidup: biaya sosial.
Budaya guyub rukun memang indah. Saling bantu, dekat dengan tetangga, terasa hangat. Tapi di balik itu, ada “tagihan” yang tidak kecil.
Diyah (30), ibu rumah tangga di Boyolali, sangat merasakannya.
“Kalau ada hajatan, kita harus datang dan kasih amplop. Sekarang minimal Rp50.000. Kalau orang terdekat ya bisa Rp100.000 bahkan lebih,” ujarnya.
Masalahnya, undangan tidak datang satu-satu.
“Pernah seminggu ada empat undangan. Sudah Rp200.000. Belum iuran ini-itu—kematian, 17-an, perbaikan jalan, jimpitan. Kadang gaji suami yang pas-pasan habis cuma buat ‘rukun’ biar tidak jadi omongan,” katanya.
Belum lagi tenaga. Ada tradisi rewang—membantu tetangga yang punya hajatan. Bukan cuma satu-dua jam, kadang bisa berhari-hari. Bagi yang bekerja, ini jadi dilema: tidak ikut dianggap tidak peduli, ikut berarti capek luar biasa.
Ditambah lagi arisan. Di banyak tempat, ini bukan sekadar menabung, tapi juga “absensi sosial”. Tidak datang? Siap-siap jadi bahan pembicaraan.
Di tengah kondisi ini, ada satu kelompok yang sering “diam-diam menahan”: para guru, khususnya di lembaga pendidikan Islam.
Gaji tidak besar—bahkan sering di bawah UMR. Tapi tuntutan sosial? Sama.
Mereka tetap harus datang ke undangan, tetap ikut iuran, tetap hadir di masyarakat. Bahkan lebih dari itu, mereka dituntut menjadi teladan.
Harus rapi. Harus pantas. Harus hadir. Harus peduli.
Padahal, di balik itu, banyak dari mereka harus mencari tambahan: ngajar di beberapa tempat, les privat, jualan kecil-kecilan. Semua demi menutup kebutuhan—dan tetap “terlihat layak”.
Akhirnya, hidup jadi jauh dari kata santai. Bukan slow living, tapi survival living.
Kalau dipikir-pikir, slow living di Jawa Tengah itu bukan tidak ada. Tapi tidak semua orang bisa merasakannya.
Yang benar-benar bisa menikmati biasanya:
- Punya tabungan besar
- Tidak terlalu bergantung pada gaji bulanan kecil
- Atau datang dari kota besar dengan kondisi finansial sudah aman
Mereka bisa ngopi santai, menikmati suasana desa, tanpa terlalu memikirkan amplop undangan minggu ini.
Sementara bagi banyak warga lokal—termasuk para guru—hidup tetap penuh hitung-hitungan.
Jadi mungkin yang perlu diluruskan bukan Jawa Tengahnya, tapi cara kita melihatnya.
Karena ternyata, slow living itu bukan soal tinggal di mana…
tapi soal punya cukup atau tidak.
3 Dekade Menjemput Berkah, Menenun Sejarah: Jejak Langkah Sosok Perintis di Ujung Selatan Mataram
KEBUMEN – Matahari di ufuk Ujung Selatan Mataram bersinar lebih hangat pada Ahad, 5 April 2026. Di bawah naungan langit Kebumen yang teduh, sebuah pertemuan tak biasa digelar. Bukan sekadar jabat tangan Halal Bihalal, melainkan sebuah simfoni syukur atas tiga dasawarsa pengabdian yang lahir dari rahim kesabaran.
Ratusan pasang mata—mulai dari pejabat publik, para kyai dan ulama, wali santri, hingga para pejuang pendidikan di bawah bendera Hidayatullah Kebumen—berkumpul dengan satu rasa yang sama: Takzim. Mereka hadir untuk menyaksikan napak tilas seorang pejuang sunyi, Abah K.H. Akhmad Yunus, M.Pd.I., yang tepat hari ini genap 30 tahun mewakafkan seluruh detak hidupnya bagi ummat.
Bermodal Doa dan Sepeda Pinjaman
Mundur ke belakang, tiga puluh tahun silam bukanlah kemegahan gedung yang menyapa. Sejarah mencatat sebuah fragmen yang menggetarkan jiwa: seorang pemuda dengan tekad baja, menggenggam beberapa lembar Majalah Suara Hidayatullah bekas, menembus debu jalanan dengan sepeda ontel pinjaman dari kerabat jauh.
Tanpa peta kepastian, tanpa janji kesejahteraan, Abah Yunus muda mengetuk satu demi satu pintu rumah warga. Setiap kayuhan sepedanya adalah zikir, dan setiap keringat yang jatuh adalah benih doa. Beliau tidak sedang menawarkan proposal bangunan, melainkan menawarkan cahaya dakwah di atas alas keikhlasan yang paling dasar.
“Pencapaian hari ini bukanlah hadiah jatuh dari langit, melainkan akumulasi dari air mata yang tumpah di sujud-sujud malam dan langkah kaki yang tak pernah surut meski dihadang badai ketidakpastian.”
Menenun Cahaya dari Titik Nol
Kini, tiga puluh tahun kemudian, sepeda ontel itu telah bertransformasi menjadi deretan unit pendidikan yang kokoh dan lingkungan berjamaah yang mandiri. Namun, pesan yang ingin disampaikan dalam momentum ini sangatlah jelas bagi seluruh kader: Segala kemudahan yang dinikmati hari ini memiliki harga yang sangat mahal.
Gedung-gedung yang berdiri tegak adalah monumen dari mentalitas baja seorang perintis. Keistiqomahan Abah Yunus membuktikan bahwa ketika azzam sudah terpatri untuk mengabdi pada agama, maka Allah-lah yang akan menenun jalan-jalan keberkahan yang tak terduga.
Refleksi bagi Kader Masa Kini
Acara ini menjadi pengingat tajam sekaligus haru bagi seluruh guru, staf, dan kader Hidayatullah. Bahwa keberhasilan lembaga bukan semata-mata soal manajemen modern, melainkan soal “ruh” perjuangan yang belum tentu sanggup dipikul oleh semua orang.
Napak tilas ini mengajak setiap yang hadir untuk bertanya pada diri sendiri: Sanggupkah kita tetap bertahan ketika yang kita miliki hanyalah majalah bekas dan sepeda pinjaman, namun di dada kita ada keyakinan yang menggetarkan Arsy?
Halal Bihalal 2026 ini ditutup dengan doa yang menyentuh hati, memohon agar api perjuangan Abah Yunus dan seluruh asatidzah perintis di penjuru Indonesia terus menyala dalam jiwa-jiwa generasi penerus, agar sejarah yang ditenun dengan air mata ini tak lekang oleh zaman.
30 Tahun Yayasan Al-Iman: Bukan Sekadar Angka, Tapi Cerita Tentang Cinta yang Menemukan Jalan Pulang.

